HONDA BANNER

Dol di Malam Takbiran: Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Bengkulu

Dol di Malam Takbiran: Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Bengkulu

Terlihat Dol di sisi kiri foto pada masyarakat di masjid Al-Hasyim Malabero kota Bengkulu yang bersiap melaksanakan pawai obor, 30/03/2025 (foto: Penulis) -(ist)-

Takbir berseru, Dol bertalu, bercampur dengan suara mesin kendaraan dari orang-orang konvoi yang terdengar menderu. Malam itu, Kota Bengkulu disemarakkan oleh masyarakat muslim yang sedang menyambut kedatangan hari yang ‘Fitrah'. Kesibukan terjadi di beberapa masjid, kemacetan tak terelakkan di beberapa jalan. Lalu lalang kendaraan yang tidak sedikit, arus lalulintas pun harus dikondisikan oleh pihak kepolisian.

Malam takbiran di kota Bengkulu, Dung! Dung! Dung!, begitu kiranya bunyi khas Dol mengiringi suara sumbang dari takbir anak-anak yang sedang memegang obor. Silih berganti orang-orang menabuh Dol, kebanyakan dari kaum laki-laki dengan rentang usia anak kecil hingga orang dewasa. Dol laksana Bedug yang diperdengarkan, gemanya menyempurnakan takbir yang dilangitkan. Di beberapa masjid, Dol dijajar seperti Bedug dengan menggunakan stand. Adapula Dol yang diarak, dengan menggunakan gerobak hingga ditaruh pada bak belakang mobil yang terbuka. 

Berpadu dengan bunyi Tassa (rebana), Dol menimbulkan kekhasan irama yang menjadi identitas Bengkulu di malam Takbiran. Sekaligus sebagai cerminan dari budaya keislaman Nusantara.

BACA JUGA:Negatif Campaign dalam Debat Kandidat Pilkada, Antara Regulasi dan Pengawasan

BACA JUGA:Menghindari Politik Identitas di Balik Label Putra Daerah dalam Pilkada Bengkulu

Bedug dan Takbiran, menjadi penanda dari tampuk bulan suci Ramadhan yang lazim di Nusantara. Fenomena bunyi ini sudah mendarah daging ditelinga masyarakat muslim Indonesia ketika menjelang satu Syawal. Sangat ramai!, apakah bedug, obor, dan arak-arakan menjadi cara masyarakat muslim Nusantara menyuarakan keramaian di malam kemenangan? 

Islam masuk dan melebur dengan budaya setempat. Akulturasi dan asimilasi menjadi sifat dari keislaman di Nusantara. Strategi ini menjadi ujung tombak para penyiar agama dalam mengislamkan masyarakat dahulu. Pada akhirnya, budaya Islam di Nusantara sedikit banyaknya memiliki corak yang berbeda dari budaya Islam di tempat lahirnya. Sudah barang tentu tradisi memukul Bedug di malam takbiran salah satunya. 

Dikutip dari Alif.id, penggunaan bedug dalam budaya Islam di Indonesia tak lepas dari perjalanan Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming pada abad ke-15. Cheng Ho dalam misinya menyebarkan agama, budaya, serta melakukan kontak perdagangan dengan beberapa kerajaan di Nusantara (Saputro, 2019). Sebagai simbol diplomasi, ketika Cheng Ho memberikan sebuah Bedug kepada penguasa di Semarang pada saat itu. Catatan ekspedisi Cornelis De Houtman (1595-1597) mengenai Bedug, pula menggambarkan demikian adanya. Penjelajah asal Belanda tersebut menyatakan adanya Bedug yang terdapat pada ruang depan Masjid di berbagai kota pulau Jawa (Rouffaer & Ijzerman, 1921) 

Setelahnya, Bedug semakin melekat dalam budaya masyarakat muslim Indonesia ketika dikukuhkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) dalam kegiatan Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan. Penggunaan Bedug dalam masjid dipandang sebagai bagian dari memperbesar syiar Islam. 


Dol sebelah kiri dan Tassa sebelah kanan foto, (Foto: Penulis) -(ist)-

Dol: Bedug Bengkulu yang bukan Bedug

Bedug sejatinya bagi masyarakat merujuk pada keluarga gendang besar yang dipukul menggunakan alat tabuh. Tidak terkecuali Dol, ‘Bedugnya orang Bengkulu', sebuah stereotip bagi orang yang belum mengenal lebih dalam tentang musik Dol. Memang, untuk ukuran Bedug dan Dol sama-sama tergolong  ke dalam keluarga gendang besar, padahal jika ditelisik lebih mendalam jelas berbeda. Keduanya memiliki perbedaan baik secara latar sejarah, organologi, serta tradisi yang melatarbelakanginya. Dalam hal ini menyangkut tentang bagaimana masyarakat Bengkulu memaknai  gema Dol yang dilayangkan saat malam takbir. 

Jejaknya, tradisi musik Dol tidak pula dapat disangkal dari masuknya budaya Tabut di Bengkulu. Sebuah kegiatan tahunan yang mengalami rekonstruksi budaya dari produk budaya Islam Syiah yang dibawa oleh imigran India pada periode Inggris saat bercokol di Bengkulu (Feener, 1999 & Kartomi, 2012 ). Kepedulian masyarakat Bengkulu terhadap Dol membuat pemerintah daerah mengintervensi aturan dari Keluarga Tabut tentang Dol yang bersifat sakral. Dewasa ini, Dol bertransformasi dari yang semula sakral ke sekuler atau profan (Parmadi, 2018). Dari pelarangan menabuh selain di bulan Muharram, menjadi pengkreasian di setiap kegiatan. Termasuk pada malam Takbiran. 

Kapan Dol dipergunakan h ranah masjid belumlah dapat diketahui pasti. Hal ini berkaitan dengan sejarah Dol dan Tabut yang berlatar budaya Islam Syiah dari India (Aviandy, 2025). Namun, masyarakat Bengkulu yang menganut paham Islam Ahlussunnah Waljamaah merekonstruksi tradisi Dol dengan cara budaya lokal dan disesuaikan pada ajaran Islam yang berkembang di Nusantara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: