Dol di Malam Takbiran: Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Bengkulu

Terlihat Dol di sisi kiri foto pada masyarakat di masjid Al-Hasyim Malabero kota Bengkulu yang bersiap melaksanakan pawai obor, 30/03/2025 (foto: Penulis) -(ist)-
KITLV A508 – Moskeetrommel te Bengkoelen, (Arsip Leiden University Library) -(ist)-
Sebuah gambar foto berangka tahun 1939 menunjukkan adanya Dol yang digantung pada salah satu Masjid di Bengkulu. Namun sangat disayangkan, keterbatasan arsip dari sumber perpustakaan Universitas Leiden ini tidak memberikan narasi yang lengkap terhadap foto tersebut. Setidaknya, dari arsip ini mengindikasikan mungkin saja sejak periode sebelum kemerdekaan Dol sudah dipergunakan pada masjid-masjid di kota Bengkulu. Mengingat adanya pengukuhan Bedug sebagai bagian dari syiar Islam dalam kegiatan Muktamar oleh Organisasi NU pada tahun 1936. Boleh jadi masyarakat Bengkulu yang memandang hal tersebut dan mulai menggunakan Dol pada kegiatan keagamaan, justru bukan Bedug.
Spiritualitas: Agama dan Budaya
Sekarang, penggunaan Dol secara masif pada malam Takbiran tidak bisa dipungkiri adanya peran sanggar-sanggar yang berorientasi pada musik Dol. Terutama di kawasan sekitaran garis pantai kota Bengkulu yang memiliki dominasi sanggar.
Mereka turut meminjamkan sebagian besar Dol kepada pihak masjid demi menyukseskan acara. Kontribusi ini menjadi bagian penting dari kepedulian para pelestari tradisi tersebut dalam kegiatan keagamaan.
Tentu saja keramaian masyarakat menabuh Dol malam Takbiran sebagai momentum ganda yang ditunggu-tunggu selain dalam Upacara Tabut. Berbeda nuansa!. Barangkali tokok’'an Dol di malam Takbiran tidak sekuat pada saat kegiatan Malam Menjara. Dinamikanya lebih lirih, khidmat, dan massa yang berkumpul terlihat lebih khusyuk. Junjungan tangan bukanlah jari-jari atau Penja, melainkan gemerlap dari cahaya suluh yang terpancar. Bukan teriakan aduan, namun seruan kemenangan. Menjadikan spirit sosiokultur yang terus mencuat dalam atmosfer keislaman. Takbir menuntun gairah Dol nan bergempita. Menjadi irama refleksi batin yang sedang dipuncak kemenangan dalam kedamaian spiritual.
Tidak hanya malam Takbiran, penggunaan Dol juga dilakukan untuk menandakan waktu salat dan kegiatan bangun sahur oleh masyarakat kota Bengkulu. Aktivitas ini bukan semata pada kegunaan Dol saja, melainkan sebagai jati diri kelokalan masyarakat Bengkulu dalam keislaman Nusantara.
Keramaian masyarakat dalam melakukan Arak-arakan di depan masjid Jamik kota Bengkulu, 30/03/2025 (foto: penulis) -(ist)-
Referensi
Saputro, 2019. Hikayat Bedug, dari Cheng Ho hingga jadi ikon budaya Islam Nusantara. https://alif.id/read/cs/hikayat-bedug-dari-cheng-ho-hingga-jadi-ikon-budaya-islam-nusantara-b223671p/
G. P. ROUFFAER en J. W. IJZERMAN 1915. DE EERSTE SCHIPVAART DER NEDERLANDERS NAAR OOST-INDIË ONDER CORNELIS DE HOUTMAN 1595—1597. S-GRAVENHAGE MARTINUS NIJHOFF
R. Michael Feener 1999. Tabut: Muharram Observances In the History of Bengkulu. Studi Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies. Vol. VI, No. 2, 1999
Margaret Kartomi 2012. Musical Journeys in Sumatra. University of Illinois Press, 2012.
Aviandy, M., Muhammad Nugraha, F., Alkatiri, Z., & Tomberge, N. (2025). Bengkulu’s Tabot tradition: the hidden framing of contesting celebration narratives. Cogent Arts & Humanities, 12(1). https://doi.org/10.1080/23311983.2025.2474879
Parmadi, B. (2018). Globalisasi dan Hegemoni Terhadap Transformasi Musik Dol di Bengkulu. MUDRA Jurnal Seni Budaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: